It's my blog… It's my life…

Ekologi Laut Tropis

Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikos (rumah) dan logos (ilmu). Istilah ekologi diperkenalkan oleh Ernst Haecckel (1866) dengan pengertian: Ekologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari seluk beluk ekonomi alam, sesuatu kajian mengenai hubungan anorganik serta lingkungan organik di sekitarnya yang kemudian pengertian ini diperluas, yang umumnya tertera dalam berbagai kamus dan ensiklopedia, menjadi kajian mengenai hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.

Laut memiliki keanekaragaram yang sangat tinggi, khususnya di laut tropik, misalnya terumbu karang, mangrove, dan lain-lain. Banyak sumber bahan makanan yang bisa didapat di laut, sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tidak dapat diperoleh/dipenuhi dari darat. Oleh karena itu, maka sangat diperlukan untuk mengkaji lebih jelas mengenai ekologi yang terdapat di laut, terutama di laut tropis seperti Indonesia ini.

Di bagian dunia yang memiliki iklim tropis, matahari bersinar terus-menerus sepanjang tahun (hanya ada dua musim: hujan dan kemarau), yang mengakibatkan produksi fitoplankton berada pada kondisi optimal dan konstan sepanjang tahun. Tidak seperti di bagian dunia beriklim subtropis (tingkat produktifitas akan berbeda-beda pada setiap musimnya) dan beriklim kutub (masa produktivitas sangat pendek).

Berbagai organisme yang hidup di laut tropis membutuhkan tempat hidup. Tempat hidup inilah yang disebut relung (niche). Konsep relung (niche) dikembangkan oleh Charles Elton (1927), seorang ilmuwan Inggris. Niche atau nicia atau ecological niche, tidak hanya meliputi ruang/tempat yang ditinggali organisme, tetapi juga peranannya dalam komunitas, dan posisinya pada gradien lingkungan: temperatur, kelembaban, pH, substrat, dan kondisi lain. Pengetahuan tentang niche diperlukan untuk memahami berfungsinya suatu komunitas dan ekosistem dalam habitat utama organisme-organisme tersebut. Niche tidak hanya diartikan dimana organisme tadi hidup, tetapi juga pada apa yang dilakukan organisme termasuk mengubah energi, bertingkah laku, bereaksi, mengubah lingkungan fisik maupun biologi, dan bagaimana organisme dihambat oleh spesies lain.

Aliran energi dalam niche yang terjadi adalah ketika matahari menyinari laut, sinarnya akan membantu proses fotosintesis yang dilakukan oleh fitoplankton. Fitoplankton inilah yang kemudian akan dikonsumsi oleh zooplankton, zooplankton dikonsumsi oleh hewan dengan tingkat yang lebih tinggi (karnivora), hingga pada akhirnya hewan karnivora akan mati dan didekomposisi oleh dekomposer menjadi detritus, yang kemudian diserap fitoplankton sebagai zat hara/nutrien.

Proses kehidupan dan kegiatan makhluk hidup pada dasarnya akan dipengaruhi dan mempengaruhi faktor-faktor lingkungan, seperti cahaya, suhu, dan nutrien dalam jumlah minimum atau maksimum. Tumbuhan untuk dapat hidup dan tumbuh dengan baik membutuhkan sejumlah nutrien tertentu (misalnya unsur nitrat dan fosfat) dalam jumlah minimum. Dalam hal ini, unsur-unsur tersebut menjadi faktor ekologi yang berperan sebagai faktor pembatas. Faktor-faktor lingkungan penting yang menjadi faktor pembatas minimum dan faktor pembatas maksimum pertama kali dinyatakan oleh V.E. Shelford, yang dikenal sebagai “Hukum Toleransi Shelford“.

Semua faktor lingkungan beserta organisme hidup tersebut berada dalam suatu siklus yang terus-menerus, yang disebut siklus biogeokimia. Siklus biogeokimia adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke komponen biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Dengan tujuan mengembalikan unsur atau senyawa yang telah terpakai sehingga dapat dipakai kembali, dan begitu seterusnya.

Unsur atau senyawa tersebut dapat dikatakan sebagai nutrien bagi kelangsungan hidup organisme. Nutrien tersebut dapat masuk ke ekosistem dengan cara weathering, atmospheric input, biological nitrogen fixation, dan immigration. Nutrien tersebut dapat juga keluar dari ekosistem dengan cara erosion, leaching, intrusi, gaseous losses, pembuangan berupa gas, emigration, and harvesting.

Macam-macam siklus:

1. Siklus Nitrogen

2. Siklus Fosfor

3. Siklus Karbon dan Oksigen

Setiap komponen biotik dan abiotik menempati suatu ekosistem. Ekosistem berasal dari kata Geobiocoenosis (biocoenosis: komponen biotik dan geocoenosis: komponen abiotik). Jadi, ekosistem dapat diartikan suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem terbentuk dari komponen biotik dan abiotik di suatu tempat yang saling berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur. Komponen abiotik berupa air, gas, dan tanah. Sedangkan komponen biotik berupa bakteri, plankton, benthos, dan ikan.

Komponen ekosistem berdasarkan tingkat makan-memakan (trophic level):
Autotrophic
Organisme yang mampu mensistesis makanannya sendiri yang berupa bahan organik dari bahan-bahan anorganik sederhana dengan bantuan sinar matahari dan zat hijau daun (klorofil).
Heterotropic
Organisme yang mampu menyusun kembali dan menguraikan bahan-bahan organik kompleks yang telah mati ke dalam senyawa anorganik sederhana.
Penyusunnya berupa komponen abiotik (medium), produsen, konsumen, dan pengurai (dekomposer).

Namun, setiap ekosistem mempunyai ciri khas masing-masing. Hal yang membedakan ekosistem satu dengan yang lainnya adalah perbedaan kondisi iklim (hutan hujan, hutan musim, hutan savana), perbedaan letak dari permukaan laut, topografi, dan formasi geologik (zonasi pada pegunungan, lereng pegunungan yang curam, lembah sungai), dan perbedaan kondisi tanah dan air tanah (pasir, lempung, basah, kering).

Berdasarkan proses terjadinya, ekosistem dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu ekosistem alam (laut, sungai, hutan alam, danau alam, dan lainnya) dan ekosistem buatan (sawah, kebun, hutan tanaman, tambak, bendungan).

Macam-macam tipe ekosistem:
1. Ekosistem Terestrial (daratan)
Ekosistem hutan
Ekosistem padang rumput
Ekosistem gurun
Ekosistem anthropogen atau buatan(sawah, kebun, dan lainnya)
2. Ekosistem Akuatik (perairan)
Ekosistem air tawar (kolam, danau, sungai, dan lainnya)
Ekosistem lautan

Salah satu ekosistem yang paling dikenal di daerah pesisir adalah ekosistem mangrove. Mangrove berasal dari kata mangue/mangal (Portugis) dan grove (English). Mangrove merupakan suatu tipe ekosistem hutan yang tumbuh di daerah pasang surut (pantai, laguna, muara sungai) yang mempunyai toleransi terhadap kadar garam (salinity) air laut.

Jenis-jenis mangrove:
Avicenniaceae (api-api, black mangrove, dll)
Combretaceae (teruntum, white mangrove, zaragoza mangrove, dll)
Arecaceae (nypa, palem rawa, dll)
Rhizophoraceae (bakau, red mangrove, dll)
Lythraceae (sonneratia, dll)

Hutan mangrove dikatakan mempunyai nilai yang sangat penting dalam bidang ekologi karena mangrove berfungsi sebagai Nursery, Feeding, and Spawning ground biota laut dan hewan liar lainnya.

Fungsi mangrove:
1. Sebagai peredam gelombang dan angin, pelindung dari abrasi dan pengikisan pantai oleh air laut, penahan intrusi air laut ke darat, penahan lumpur dan perangkap sedimen.
2. Sebagai penghasil sejumlah besar detritus bagi plankton yang merupakan sumber makanan utama biota laut.
3. Sebagai habitat bagi beberapa satwa liar, seperti burung, reptilia (biawak, ular), dan mamalia (monyet).
4. Sebagai daerah asuhan (nursery grounds), tempat mencari makan (feeding grounds), dan daerah pemijahan (spawning grounds) berbagai jenis ikan, udang dan biota laut lainnya.
5. Sebagai penghasil kayu konstruksi, kayu bakar, bahan baku arang, dan bahan baku kertas.
6. Sebagai tempat ekowisata.

Mangrove mempunyai fungsi yang sangat penting, namun sekarang ini kondisi hutan mangrove di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Saat ini mangrove sudah mengalami kerusakan hampir 68%. Kerusakan tersebut membuat perubahan-perubahan yang menyebabkan gangguan fungsi ekologi mangrove. Perubahan-perubahan tersebut antara lain:
Konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak, pemukiman, pertanian, pelabuhan, dan perindustrian
 Pencemaran limbah domestik dan bahan pencemar lainnya
 Penebangan ilegal

Permasalahan yang ada dalam kondisi hutan mangrove tersebut adalah:
1. Terbatasnya data, informasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk pelestarian, perlindungan, dan rehabilitasi hutan mangrove.
2. Belum jelasnya tata ruang wilayah pesisir dan tata guna mangrove yang mengakibatkan banyak terjadi tumpang tindih kepentingan peruntukan lahan dalam pemanfaatan hutan mangrove.
3. Belum adanya peraturan pelaksanaan yang mantap dari perundang-undangan yang telah ada sebagai dasar pengelolaan hutan mangrove secara lestari.
4. Kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar hutan mangrove.

Kita sudah sepatutnyalah peduli terhadap kondisi hutan mangrove kita ini. Kita yang telah mengetahui kenyataan sudah selayaknya bergerak untuk memperbaiki kondisi ini menjadi lebih baik untuk masa depan kelak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

%d bloggers like this: